Minggu, 16 Oktober 2016

UNTUKMU INDONESIA



Untukmu indonesiaku

Dari tanah negeri ini  engkau hidup

Dari air bumi ini engkau minum

Dari udara alam ini engkau bernafas

Tapi.. entah mengapa, ketika engkau dewasa.

Hilang semua rasa cinta pada tanah air ini..

Banyak darah tercucur demi kemerdekaan indonesia

Ribuan nyawa melayang demi berkibarnya sang merah putih

Tapi mengapa semua pengorbanan para pahlawan kita

Seakan sirna begitu saja..

Kemana perginya  jiwa nasionalisme kita?? Kemana??

Kini luntur semua rasa itu.. luntur..

Bukan harta yang kita impikan !!

Bukan negeri orang yang kita sanjungkan !!

Bukan pangkat yang berbintang  yang kita harapkan !!

melainkan....

Menjunjung tinggi tanah air kita,

Mencintai dan berjanji ,

Memperlihatkan kepada dunia siapa indonesia..

Semua itu hanyalah impian masa kecil..

Yang kini telah terhapuskan dengan semua rasa cinta kepada negara lain..

Kemana jiwa patriotisme kita ? kemana??

Kemana cinta yang dulu hadir untuk negeri kita?? Kemana ??

*indonesia merdeka dengan tetesan darah dan air mata hingga ujung nyawa

Tapi setelah merdeka kita lupakan begitu saja.. pengorbanan semua pahlawan kita

Untukmu jiwa dan  raga ku indonesia ku. 
karya
EFI RIYANTI, SE

FIGHT



Kini kau telah melebarkan sayapmu
Engkau siap untuk terbang,
terbang bersama orang yang saat ini dalam pelukmu
tidakkah kau menoleh terlebih dulu
sebelum engkau terbang
hey,, lihat sayapku telah patah
sayap yang telah lama kurangkai
bersama sayapku ku ingin terbang bersamamu
tetapi kau mendorong tubuhku dengan keras
hingga kini ku terjatuh..
kini sayapku telah patah, ku tak akan bisa terbang bersamamu
kini kau telah terbang bersama perempuan yang sedang dalam pelukmu
kini ku terpuruk, ku coba rangkai kembali sayapku
agar ku bisa terbang kembali bersama pangeran berkuda putih
yang telah tuhan janjikan kepada umatNya..
ku percaya sang pangeran takkan pernah mematahkan sayapku
peluk erat hati yang lemah beserta beribu goresan luka
and he would say, fly with me in the world dream of becoming empress in my life..

Senin, 09 November 2015

LELAKI PARUH BAYA MELAWAN KERASNYA IBU KOTA




Kerupuukkkk....

Teriaknya, dengan membawa kantong plastik besar berisikan kerupuk, beliau mengelilingi setiap komplek di daerah semarang lebih tepatnya kecamatan tlogosari. Walaupun tak sedikit orang yang memandang rendah lelaki paruh baya itu namun semua itu tak membuatnya mundur dan malu dengan pekerjaannya, bagi nya selagi tidak menyusahkan orang lain beliau tidak akan pernah malu, pedagang kerupuk tak lagi sedikit bahkan hampir semua toko menjual kerupuk sehingga tak mudah baginya menjual satu kantong plastik besar dalam waktu yang singkat. Berusaha, berdoa, dan menanti rejeki dari yang Kuasa itulah yang beliau lakukan.

Kaki yang tak sekuat dulu, badan yang sering sakit sakitan tak membuat semangat beliau berkurang, walau letih terpampang jelas di raut wajah beliau namun lelaki paruh baya itu tak ingin menyianyiakan waktunya untuk beristirahat, yang ada di benaknya hanyalah jualannya cepat habis dan bisa segera bertemu keluarga. Sinar matahari terasa menyusup kedalam baju tipis itu, kulitnya yang kering seakan tak lagi merasakan panasnya sinar matahari, dahi yang bercucuran keringat sampai kulit yang merasakan dinginnya malam menyusuri tubuhnya yang rentan, siang berganti malam selagi kerupuknya belum habis beliau dengan semangat dan keinginan yang tinggi membuatnya berusaha agar beliau tidak membawa barang dagangannya pulang.

Kerasnya ibu kota yang membuatnya tetap bertahan berjualan kerupuk, persaingan yang banyak membuat kakek itu memilih jualan kerupuk keliling komplek, dengan begitu beliau yakin dagangannya akan cepat habis dibandingkan jualan di rumah, meski tak seberapa uang hasil berjualan kerupuk, “sing penting niku saget damel nedi kulo sak keluargo niku alkamdulillah” (ujar lelaki berambut putih itu) buat beliau yang terpenting uang hasil jualan kerupuk itu bisa buat makan beliau dan keluarganya saja sudah bersyukur.

Kerasnya kehidupan memaksa lelaki berambut putih itu terus bekerja keras agar bisa menghidupi keluarganya, karena beliau tau kehidupan sekarang ini sangat berbeda dengan dulu waktu beliau masih muda, “nedi sekol petak niku pun seneng, nopo maleh wonten kerupuk” kata beliau dengan logat jawanya yang kental. Dulu jualan apa saja cepat laku karena di jaman sekarang ini semakin banyak orang berjualan semakin sulit pula lakunya barang jualan mereka, semua tergantung strategi penjualan masing masing penjual.

Sandal japit yang sudah mulai berubah warna menjadi teman setianya saat menjualkan kerupuk dagangannya, menyusuri perkomplekan dari siang hingga malam hari, sandal itulah satu-satunya yang bisa melindungi kaki beliau dari pecahan batu sampai barang barang yang bisa menggores kakinya. Meski resiko berjualan kerupuk keliling lebih besar namun beliau tidak terlalu memikirkan resiko itu, karena yang ditanamkan dalam hati dan fikirannya hanyalah kelebihan dari berjualan keliling dibandingkan berjualan di rumah. Kerja keras dan cara berfikir beliau sangatlah pantas untuk di acungi jempol.