Kerupuukkkk....
Teriaknya, dengan membawa kantong plastik besar berisikan kerupuk, beliau mengelilingi setiap komplek di daerah semarang lebih tepatnya kecamatan tlogosari. Walaupun tak sedikit orang yang memandang rendah lelaki paruh baya itu namun semua itu tak membuatnya mundur dan malu dengan pekerjaannya, bagi nya selagi tidak menyusahkan orang lain beliau tidak akan pernah malu, pedagang kerupuk tak lagi sedikit bahkan hampir semua toko menjual kerupuk sehingga tak mudah baginya menjual satu kantong plastik besar dalam waktu yang singkat. Berusaha, berdoa, dan menanti rejeki dari yang Kuasa itulah yang beliau lakukan.
Kaki yang tak sekuat dulu, badan yang sering sakit sakitan tak membuat semangat beliau berkurang, walau letih terpampang jelas di raut wajah beliau namun lelaki paruh baya itu tak ingin menyianyiakan waktunya untuk beristirahat, yang ada di benaknya hanyalah jualannya cepat habis dan bisa segera bertemu keluarga. Sinar matahari terasa menyusup kedalam baju tipis itu, kulitnya yang kering seakan tak lagi merasakan panasnya sinar matahari, dahi yang bercucuran keringat sampai kulit yang merasakan dinginnya malam menyusuri tubuhnya yang rentan, siang berganti malam selagi kerupuknya belum habis beliau dengan semangat dan keinginan yang tinggi membuatnya berusaha agar beliau tidak membawa barang dagangannya pulang.
Kerasnya ibu kota yang membuatnya tetap bertahan berjualan kerupuk, persaingan yang banyak membuat kakek itu memilih jualan kerupuk keliling komplek, dengan begitu beliau yakin dagangannya akan cepat habis dibandingkan jualan di rumah, meski tak seberapa uang hasil berjualan kerupuk, “sing penting niku saget damel nedi kulo sak keluargo niku alkamdulillah” (ujar lelaki berambut putih itu) buat beliau yang terpenting uang hasil jualan kerupuk itu bisa buat makan beliau dan keluarganya saja sudah bersyukur.
Kerasnya kehidupan memaksa lelaki berambut putih itu terus bekerja keras agar bisa menghidupi keluarganya, karena beliau tau kehidupan sekarang ini sangat berbeda dengan dulu waktu beliau masih muda, “nedi sekol petak niku pun seneng, nopo maleh wonten kerupuk” kata beliau dengan logat jawanya yang kental. Dulu jualan apa saja cepat laku karena di jaman sekarang ini semakin banyak orang berjualan semakin sulit pula lakunya barang jualan mereka, semua tergantung strategi penjualan masing masing penjual.
Sandal
japit yang sudah mulai berubah warna menjadi teman setianya saat menjualkan
kerupuk dagangannya, menyusuri perkomplekan dari siang hingga malam hari,
sandal itulah satu-satunya yang bisa melindungi kaki beliau dari pecahan batu
sampai barang barang yang bisa menggores kakinya. Meski resiko berjualan
kerupuk keliling lebih besar namun beliau tidak terlalu memikirkan resiko itu,
karena yang ditanamkan dalam hati dan fikirannya hanyalah kelebihan dari
berjualan keliling dibandingkan berjualan di rumah. Kerja keras dan cara
berfikir beliau sangatlah pantas untuk di acungi jempol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar